Komunikasi yang efektif menjadi fondasi utama dalam menjaga keandalan dan keselamatan operasional pembangkit listrik. Di sektor energi, setiap instruksi, setiap koordinasi, dan setiap keputusan memiliki dampak besar terhadap kinerja sistem serta keselamatan tim. Karena itu, penguatan kompetensi komunikasi bukan sekadar kebutuhan tambahan, melainkan bagian strategis dari operasional yang tidak bisa diabaikan.
Pada 27 dan 28 Januari 2026, Sara Neyrhiza, Direktur SPEAKING.id, berkesempatan mendampingi para Manajer Operasi Unit Pembangkit dari PLN Nusantara Power yang berasal dari wilayah Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi dalam Pelatihan Communication Skills. Program ini dirancang secara khusus untuk menjawab tantangan komunikasi di lingkungan pembangkitan yang dinamis, berisiko tinggi, dan menuntut presisi.
Dalam konteks operasional pembangkit listrik, komunikasi bukan hanya tentang berbicara dengan jelas, tetapi tentang memastikan pesan dipahami secara akurat dan ditindaklanjuti dengan tepat. Kesalahan interpretasi, instruksi yang tidak spesifik, atau koordinasi lintas tim yang kurang efektif dapat berdampak langsung pada keselamatan dan kontinuitas operasi. Oleh karena itu, pelatihan ini difokuskan pada penguatan kejelasan penyampaian instruksi, koordinasi lintas fungsi, pengambilan keputusan di situasi kritis, serta pembangunan komunikasi asertif yang tetap profesional.
Dengan pendekatan praktis dan berbasis studi kasus yang relevan dengan dunia pembangkitan, peserta tidak hanya memahami konsep komunikasi efektif secara teoritis, tetapi juga mampu memetakan pola komunikasi yang selama ini terjadi di unit masing-masing. Melalui simulasi, role play, dan diskusi kasus operasional, para manajer operasi berlatih menyampaikan arahan secara terstruktur, mengelola dinamika rapat koordinasi, serta memberikan umpan balik yang konstruktif kepada tim.
Salah satu fokus utama dalam pelatihan ini adalah komunikasi di situasi kritis. Dalam lingkungan pembangkit, pengambilan keputusan sering kali harus dilakukan dengan cepat dan akurat. Di sinilah peran komunikasi menjadi sangat krusial—bagaimana memastikan setiap anggota tim memahami prioritas, menghindari ambiguitas, serta menjaga ketenangan dalam tekanan. Dengan latihan berbasis skenario, peserta didorong untuk meningkatkan ketegasan, kejelasan, serta kemampuan mendengarkan aktif sebagai bagian dari kepemimpinan operasional.
Komunikasi asertif juga menjadi bagian penting dalam sesi pelatihan. Manajer operasi dituntut mampu menyampaikan standar, ekspektasi, dan koreksi secara tegas tanpa mengurangi rasa saling menghargai. Budaya komunikasi yang terbuka dan profesional akan berdampak pada peningkatan kepercayaan tim, efektivitas koordinasi, serta terciptanya lingkungan kerja yang lebih aman dan berkelanjutan.
Melalui pelatihan ini, Sara Neyrhiza menegaskan bahwa komunikasi yang tepat bukan hanya meningkatkan kinerja tim, tetapi juga berperan signifikan dalam membangun budaya kerja yang aman, profesional, dan berkelanjutan. Penguatan soft skills seperti communication skills merupakan investasi jangka panjang yang berdampak langsung pada kualitas kepemimpinan di sektor energi.


